SEGELINTIR WONK NDAGAN

|












hp sebagai modem

|
Hape sebagai modem untuk melakukan koneksi internet merupakan cara paling sederhana yang layak dilakukan bagi generasi yang serba kebelet, misalnya sekedar untuk ber YM ria lewat pc, atau membuka email dari rekan bukan kebelet merayu cewek lho?. Tapi bagi professional surfer saya kira kurang puas, kecuali bisa melakukan tweak juga pendongrak koneksi internet.
Berikut settingan beberapa profider mulai gsm dan cdma, kalo ada yang kurang silahkan di tambahi.
Persiapan:
A.Peralatan yang di perlukan:
1. Sebuah HP yang support GPRS, dan sudah bisa koneksi dengan GPRS.
2. Kartu telepon / sim card.
3. Personal computer boleh juga laptop.
4. Perangkat koneksi, dari HP ke PC. Boleh pakai kabel data, Bluetooth, atau IrDA (Infrared Data Adapter). Berikut dengan drivernya yang sudah diinstall. Pokoknya sudah bisa kirim-kiriman antara PC dan HP.
5. Tancapkan hanphone yang sudah aktif gprsnya (pastikan kondisi on) dengan kabel data ke usb komputer anda. Bila file driver telah ada di komputer maka secara otomatis akan mendeteksi dengan sendiri. bila tidak lakukan penginstalan driver secara manual.
B.Setting Modem
Start >> control panel >> Phone and Modem Options>> akan muncul daftar modem yang udah terdeteksi oleh komputer beserta portnya bisa com2, com7 dst. Bila sudah ada berarti terdeteksi bila belum bisa di pastikan salah satu setingan belum lengkap, periksa kabel data dan hidupkan hanphone anda.
Untuk memastikan koneksi antara pc dengan hanphone secara manual, silahkan sorot nama modem anda lalu pilih properties, di tab general akan tertera nama modem hape anda, lalau pilih diagnostics lalu query modem, bila tertera success berarti komunikasi oke.
Silahkan lihat bagian tab advanced, lalu di bagian extra setting masukkan kode dibawah ini: - lalu ok.
Kode extra setting
AT+CGDCONT=1,”IP”, “Acsess poin name operator”
Sebagai catatan: Acsess poin name merupakan variable yang senantiasa bisa berubah, kita sesuaikan dengan kartu hanphone yang kita pakai.
Contoh: anda memakai kartu im3 sebagai kartu hanphone yang anda gunakan sebagai modem handphone, maka settingannya kan jadi sebagai berikut:
AT+CGDCONT=1,”IP”,”www.indosat-im3.net”
Berikut settingan kode untuk masing masing operator:
AT+CGDCONT=1,”IP”,”www.indosat-im3.net” untuk im3
AT+CGDCONT=1,”IP”,”satelindogprs.com” untuk matrix dan mentari
AT+CGDCONT=1,”IP”,”internet” untuk telkomsel
AT+CGDCONT=1,”IP”,”xlgprs.net” untuk xl
C.Melakukan koneksi / membuat dial up:
1. Buka Control Panel lagi,
2. Pilih Network Connections,
3. New Connection Wizard.
4. Ikuti langkah-langkahnya dengan menekan Next…
5. Untuk Connection Type, pilih Connect to the Internet
6. Getting Ready, pilih Set up my connection manually
7. Internet Connection, pilih Connect using a dial-up modem
8. Pada connection name / isp name isikan nama terserah anda misal konekyuk (sebagai nama koneksi anda)
9. Pada Phone number to dial, isikan *99***1# (lihat daftar di bawah untuk cdma berbeda)
10. Pada dialog pengisian username dan password, sesuaikan dengan setting kartu anda. Jika menggunakan IM3, usernamenya gprs dan passwordnya im3 (lihat daftar di bawah. silahkan di sesuaikan sendiri.
Im3 ( yang berdasarkan kb )
username: gprs
password: im3
dial number : *99***1#

generasi muda ngandagan

|





lucu2
|

Pudarnya Pesona Cleopatra...

Habiburrahman El Shirazy

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam

kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah

ukenal."Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren

Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan

untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon

keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku

menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi

mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan

diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun

sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang

begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria

dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa

berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)

sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby

face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.

Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi

bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain,

mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan

Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung

melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di

hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit

cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.

Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa

tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan

shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum

manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya

harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku

yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya

sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.

Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan

kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir

kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa

susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat

bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah

bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar,

wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa

muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja.

Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri

sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai

lain.

Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih

banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah

sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku

sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,

karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab

"tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih

harus belajar berumah tangga "Ada kekagetan yang kutangkap diwajah

Raihana ketika kupanggil 'mbak', "kenapa mas memanggilku mbak, aku kan

istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah

yang sedih.

"wallahu a'lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana

diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk

kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri

kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas

masih ada yang

kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas

diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas,

kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku,

bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini". Raihana mengiba penuh

pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi

karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak

berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku

menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis

maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas

kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji

dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apaapa"

tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja,

aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku

melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana.

Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa

membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa

handuk."Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas

dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan

Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang

dilakukan ibu. "Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati

pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sa

mbil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak

tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". "Biasanya dikerokin"

jawabku lirih. "Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin"

sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil

yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku

dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana

membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku

merebahkan diri di tempat tidur.

Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur

sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin

menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan

Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku

untuk makan malam di istananya. "Aku punya keponakan namanya Mona

Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. "Dia

memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok

dan berniat memperkenalkannya denganmu".

Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku

07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian

pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi

yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba "Mas, bangun, sudah

jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana

membangunkanku.

Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas

kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas

mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi

tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka

sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia

bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari

mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar

terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku

sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadisgadis

titisan Cleopatra.

"Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan

datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,

tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang." Suara

lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.

Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan

segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingindingin

saja.

"Maaf, maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana, "lirihnya, lalu

perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. "Mbak! Eh maaf,

maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak

dalam tenggorokan. "Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan

langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha

untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". "Matanya sedikit

berbinar."Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis

sholat dhuhur, Insya Allah." ucapku sambil menatap wajah Hana dengan

senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum

bersinar dibibirnya. "Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai

baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang

memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan

bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku

belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku.

Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah,

lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki

diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang

kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan

Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang

yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana

membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana,

kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh

bangga."Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang

paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan

bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah.

Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis

disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan

terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku

adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang

sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi

memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik

meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki

Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku

dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di

mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali

menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia

mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing

dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir

tentang keturunan. "Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum

ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata

ibuku.

"Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.

Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku

tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.

Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur,

aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku

sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.

Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil.

Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak

kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.

Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak

kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya "Mana tanggung

jawabmu!"Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku

menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan

ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan

alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia

kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar,

mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.

Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas untuk menambah biaya

kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku

taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari

Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa

sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan

segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat

kuliah di Mesir. Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana.

Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku

merasa tubuhku benar-benar lemas.

Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan

perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah

menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk

angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan

menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan

menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada

penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh.

Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan

sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.

Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu

dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor

bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang

mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang

dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia

menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur

dijalani.

"Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi.

"Alhamdulillah, sudah" jawabku. "Dengan orang mana?". "Orang Jawa".

"Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak

saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah.

Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?".

"Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran".

"Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". "Kenapa dengan Bapak?"

"Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan

orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang".

"Bagaimana itu bisa terjadi?".

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona

dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya

seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir

dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,

orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya

lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari

Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah

tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya

yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya

jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya

bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata

perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh

Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan

rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang

kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi

masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak

mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu

lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya.

Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya

berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari

gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai

S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual

untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup

mewah di kota Medan.

Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap

tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih

bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya

hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak

bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi

tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak

terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya

mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni

Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa

mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat.

Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.

Jika saya pengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu

dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya

memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka

rumah seperti neraka.

Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut,

saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia

malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.

Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah

diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit,

ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya

mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka

berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis

saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu

di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. "Aku menyesal menikah

dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa

bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek

menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu

dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya

sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan

perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan

itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun

keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim

surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi.

Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus

mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat

sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan

hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya

terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya.

Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat

shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah

pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku

mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi

wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan

Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan.

Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku

mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko

baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan

pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum

menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke

kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir,

darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah

membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku

dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku "serong"?. Dengan rasa takut

kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah

ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia

mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia

menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya

Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap

setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin

hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal

hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan

karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok

kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam

diri hamba" tulis Raihana. Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa "Ya Allah

inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk

pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh

bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa

begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih

kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku

padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih

ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih

mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan

murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita.

Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya

Allah berilah hamba kekuatan untuk

tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa

hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini

kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah

dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali

Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang

luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana

terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan

pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang

halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan

perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang

turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra

telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan

cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya

Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut

kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes

sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku

meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.

Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedusedu.

Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana Bu?". Ibu mertua

hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang

telah terjadi. "Raihana istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya".

"Ada apa dengan dia". "Dia telah tiada". "Ibu berkata apa!". "Istrimu telah

meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar

mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat.

Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala

kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf

karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan

tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya".

Hatiku bergetar hebat. "Ke… kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?".

"Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang

untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke

kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin

mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu

ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat

sedih, Jadi maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku

merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku,

dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada.

Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk

sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku

dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru

dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama

dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta,

haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup

kembali.

Tiba-tiba dunia gelap gulita.

Cerita ini diperuntukkan

Bagi orang-orang yang hanya menilai wanita

dari kecantikan luarnya saja.

Manuela-Mirela: Aku Mencintai Muhammad Saw Tanpa Harus Kehilangan Yesus

|



Manuela-Mirela Tanasecu, perempuan asal Bucharest, Rumania ini terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang menganut agama Kristen Ortodoks. Meski tidak terlalu relijius, keluarga Mirela percaya akan adanya Tuhan. Mirela mulai mengenal Islam dari seorang da'i asal Tepi Barat, Palestina, Walid Sulaiman yang kemudian menjadi suaminya.

Tapi sebelumnya, ia sudah tertarik dengan Islam setelah berkunjung ke sejumlah negeri Muslim seperti Yordania, Suriah, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Setelah menikah dengan Walid pada tahun 1991 di Bucharest, Mirela memutuskan menjadi muslimah. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Iran, saat melakukan kunjungan ke negara itu.

Mirela tertarik dengan Islam karena menurutnya doktrin-doktrin dalam Islam sangat jelas dibandingkan doktrin-doktrin dalam ajaran agama Kristen. Sebagai contoh, doktrin Trinitas yang dinilainya samar-samar, membingungkan dan sulit dipahami. "Doktrin semacam itu tidak ada dalam Islam yang mengajarkan monoteisme absolut," kata Mirela.

Ia menilai umat Islam lebih serius dalam masalah agamanya dibandingkan kaum Kristiani pada umumnya. "Umat Islam salat lima waktu sehari, sedangkan penganut Kristen ke gereja hanya pada hari Minggu dan kebanyakan yang datang ke gereja juga orang-orang yang sudah tua," ujarnya.

Salah satu perbedaan yang mencolok antara Islam dan Kristen, sambung Mirela, Islam sangat menghormati dan memuliakan para nabi dan rasulnya, tanpa pengecualian. "Ini merupakan titik kekuatan Islam, yang menunjukkan bahwa siapa saja yang mencintai Yesus bisa memeluk Islam tanpa harus menghentikan rasa cinta pada Yesus, karena Islam mengajarkan umatnya untuk meyakini dan mencintai para rasul Allah Swt," papar Mirela.

"Jadi, bisa saya katakan bahwa menjadi seorang muslim, saya mencintai dan memuliakan Rasulullah Muhammad Saw tanpa harus kehilangan Yesus yang dalam Islam dikenal sebagai Nabi Isa," imbuhnya.

Perjalanan Mirela ke sejumlah negeri Muslim membuka matanya bahwa umat Islam adalah umat yang ramah, dermawan dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Sebelum mengenal Islam, Mirale memiliki pandangan yang negatif tentang Islam karena Islam membolehkan seorang suami beristeri hingga empat orang. Mirale menganggap aturan itu merendahkan perempuan. Tapi kemudian, ia menilai lelaki muslim sangat perhatian dengan keluarga dan isterinya dibandingkan lelaki Barat non-Muslim.

Mirale mengatakan, Barat telah salah menilai Islam yang dituding merendahkan kaum perempuan. Pandangan itu muncul karena Barat mendapatkan informasi yang salah dan tidak memahami ajaran Islam yang sesungguhnya. Mirale tidak menepis kenyataan bahwa ada segelintir orang Islam yang berkontribusi menimbulkan pandangan yang salah tentang Islam, karena berperilaku tidak islami.

Sebagai muslimah, Mirale menghimbau para muslimah lainnya agar tidak mencontoh gaya hidup kaum perempuan Barat. Menurutnya, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah menjadi peradaban Barat yang sangat materilistis.

"Barat mengklaim telah membebaskan perempuan. Padahal jika dikaji lebih dalam, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah diperlakukan tidak manusiawi dan dijadikan sebagai komoditi serta obyek seksual semata. Setelah saya mengenal Islam, saya bisa mengatakan bahwa tidak ada agama yang memuliakan perempuan selain Islam," tutur Mirale
|
dunia sudah di penuhi dengan fitnah...dan ketidakadilan...islam semakin menguatkan diriku

Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini.

Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka. Di antaranya :

Bila seorang pengusaha atau pejabat tinggi melakukan korupsi milyaran dan bahkan triliunan rupiah, maka aparat penegak hukum dengan mudah mengatakan tidak ada bukti untuk menahan dan mengadilinya.

Namun, bila yang mencuri itu seorang nenek atau masyarakat bawah (lemah), dengan mudah dapat ditangkap, disidangkan dan diputuskan hukuman penjara, kendati mereka mengambil hanya satu buah semangka atau tiga buah kakau, mungkin saja karena lapar.

Bila ada orang atau kelompok dengan nyata-nyata merusak dan melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti Tuhan, Kitab Suci dan Rasulnya, di negeri-negeri Islam, maka orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan berpendapat, berekspresi dan menafsirkan agama.

Namun, bila ada khatib, ustazd atau masyarakat Muslim mengajak jamaah dan umat Islam untuk konsiten dengan ajaran agamanya, maka orang dengan mudah menuduhnya sebabai khatib, penceramah atau ustazd yang keras dan tidak bisa berdakwah dengan hikmah, bahkan perlu dicurigai sebagai calon teroris.

Apa saja yang dituliskan dalam koran, dengan mudah orang mempercayainya, kendati itu hanya tulisan manusia dan belum teruji kebenarannya. Membaca dan mempelajarinya dianggap lambang kemajuan.

Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an belum tentu dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah (Ucapan Allah) yang mustahil berbohong. Kebenarannya sudah teruji sepnajang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan mengajarkan Al-Qur’an bisa mengajarkan paham terorisme.

Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan bangga dengan sistem hidup ciptaan manusia (jahiliyah), kendati sistem yang mereka yakini dan banggakan itu menyebabkan hidup mereka kacau dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah jalan hidup yang sesuai dengan akhir zaman.

Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa Islam itu diciptakan oleh Tuhan Pencipta mereka (Allah) untuk keselamatan dunia dan akhirat dan Allah itu mustahil keliru dan menzalimi hamba-Nya.

Ketika seorang Yahudi atau agama lain memanjangkan jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya.

Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang menuduhnya fundamentalis atau teroris yang selalu harus dicurigai, khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel dan sebagainya.

Ketika seorang Biarawati memakai pakaian yang menutup kepala dan tubuhnya dengan rapih, orang akan mengatakan bahwa sang Biarawati telah menghadiahkan dirinya untuk Tuhan-nya.

Namun, bila wanita Muslimah menutup auratnya dengan jilbab atau hijab, maka orang akan menuduh mereka terbelakang dan tidak sesuai dengan zaman, padahal mereka yang menuduh itu, para penganut paham demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan masing-masing.

Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi kepentingan rumah tangga dan keluarganya.

Namun, bila wanita Muslimah tingal di rumah menjaga harta suami, merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya terjajah dan harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka katakan dengan kesetaraan gender.

Setiap mahasiswi Barat bebas ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan itu adalah hak asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri.

Namun, bila wanita Muslimah ke kampus atau ke tempat kerja dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya eksklusif dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma kampus atau tempat kerja mereka.

Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat, kecerdasan dan kreativitas sang anak.

Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis agamanya, maka orang akan mengatakan bahwa pola pendidikan seperti itu tidak punya harapan dan masa depan.

Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh seseorang, atau melakukan agresi ke negeri Islam khususnya di Paestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama mereka. Bahkan mereka mengakatakan itu adalah hak mereka dan demi menyelamatkan masyarakat Muslim di sana.

Akan tetapi, bila kaum Muslim melawan agresi Yahudi atas Palestina, atau Amerika Kristen di Irak dan Afghanistan, mereka pasti mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai pemberontak dan teroris .

Bila seseorang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, maka semua orang akan memujinya dan berhak mendapatkan penghormatan.

Namun, bila orang Palestina melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya atau orang tuanya dari penculikan dan pembantaian tentara Israel, atau menyelamatkan rumahnya dari kehancuran serangan roket-roket Israel, atau memperjuangkan masjid dan kitab sucinya dari penodaan pasukan Yahudi, orang akan menuduhnya TERORIS. Kenapa? Karena dia adalah seorang Muslim.

Bila anak-anak Yahudi diajarkan perang dan senjata otomatis untuk membunuh kaum Muslimin Palestina, maka orang akan menegatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya membela diri kendati mereka adalah agresor.

Namun, bila anak Palestina belajar melemparkan batu menghadapi prajurit Yahudi yang dilengakapi dengan tank dan senjata canggih lainhya saat menghancurkan rumah, masjid dan kampung mereka, maka orang akan menuduh mereka sebagai pelaku kejahatan yang pantas ditangkap, dipatahkan tangannya dan dipenjarakan belasan tahun.

Nah, inilah sekelumit keajaiaban manusia di akhir zaman ini. Bisakah kita mendapatkan pelajaran yang baik sehingga dapat menentukan sikap yang benar, atau kita akan jatuh menjadi korban keajaiban akhir zaman? Allahul musta’an….(fj)