|
Perbandingan
Agama
Agama Kristen dan Islam sebagai agama
Samawi, mempunyai asal yang sama, namun
selama ini yang lebih dikedepankan adalah
perbedaan dan pertentangan di antara
keduanya, apalagi jika sudah tercampur dengan
pola budaya yang berbeda, seperti Kristen di
Indonesia yang latar budaya Latin (Barat) lebih
tampak dibanding budaya Indonesia. Tulisan ini
mencoba untuk mengenal lebih jauh tentang
Gereja Ortodoks Syria, dan mencari akar
kesamaannya dengan Islam, yang sama-sama
berlatar budaya Timur Tengah, guna menjadi
bahan masukan untuk pengembangan dialog
Islam-Kristen.
Gereja Ortodoks Syria
dan Dialog Islam – Kristen
Oleh Zaenul Arifin*
Kata Kunci: dialog, Gereja Ortodoks Syria, Islam, Kristen, bahasa teologis,
pola ibadah
Pendahuluan
Hubungan Islam-Kristen di Indonesia, pada salah satu aspeknya
mewarisi “beban sejarah” dari para pendahulunya, yaitu para pembawa
kedua agama: Islam hampir identik dengan Arab (Timur Tengah) dan
Kristen dengan Barat. Oleh karena itu, konflik Kristen-Islam, sekalipun
tidak disangkal ada unsur teologis di dalamnya, lebih dominan
dilatarbelakangi oleh pertentangan dua pola budaya tersebut. Terlebih
lagi relasi Barat dan Timur, di kebanyakan negara-negara ketiga (seperti
Indonesia), sering dipahami sebagai relasi “yang menjajah dan yang
terjajah”.
Berangkat dari pergumulan seperti itulah, sejak tahun 1997, Bambang
Noorsena, dengan Insititute for Syriac Christian Studies (ISCS), menawarkan
kekristenan Syria –terutama Gereja Ortodoks Syria - sebagai wacana
dalam menembus “kebuntuan dialog teologis Kristen-Islam”. Menurutnya,
banyak “meeting point” antara Kristen dengan Islam yang dapat
diagendakan dalam dialog kedua iman, baik dari sudut historis, cultural,
maupun teologis. Sejak itu umat Islam maupun Kristen di Indonesia lewat
2 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
berbagai forum dan kajian berusaha untuk mengenal lebih jauh tentang
Gereja Ortodoks Syria ini.
Untuk itu tulisan ini berusaha menguraikan lebih jauh tentang Gereja
Ortodoks Syria baik dari segi sejarah, ajaran, dan terutama, “meeting
point”-nya dengan Islam.
Sejarah dan Perkembangan Gereja Ortodoks Syria
Gereja Ortodoks Syria, nama resminya Idto Suryoyto Treeysath Shubho,
dalam bahasa Inggris, Syriac Orthodox Church,1 - gereja ini di Barat sering
disebut sebagai Jacobit2 atau Monophysit,3 tetapi julukan ini dianggap
menyesatkan. Para pengikut gereja ini lebih menyukai istilah Gereja non
Chalcedonia4 atau Gereja Miafisit 5 yang merupakan salah satu gereja
Kristen tertua yang berakar dari Gereja Antiochia.6
Di kota Anthiochia inilah para pengikut Yesus, untuk pertama kalinya
dijuluki orang Kristen7 Selain dijuluki orang-orang Kristen (para pengikut
Kristus), mereka juga dijuluki orang-orang Syria (Syirians dalam bahasa
Inggris). Nama ini diambil dari nama Cyrus, Raja Persia (559-529 SM.)
yang menaklukkan Babylon (539 SM.) dan membebaskan orang-orang
Yahudi untuk kembali ke Judea. Nama ini disebutkan oleh Nabi Isaiah,
dan dihubungkan dengan Kristus. Sejak itu istilah orang-orang Syria,
dipakai pertama-tama untuk orang-orang Kristen dari Syria (Suriah),
dan kemudian dipakai juga untuk menyebut orang-orang Kristen dari
Mesopotamia, Persia, India, dan Timur Jauh yang masuk Kristen karena
para rasul dan pendeta yang berasal dari Syria.
Nama Syrian digunakan untuk membedakan antara orang-orang
Aram Kristen dan kafir. Istilah “Aramean” sinonim dengan “Kafir”, dan
istilah “Syrian” sinonim dengan “Kristen”. Demikian juga bahasa Aram
disebut bahasa Syria (Syriac). Hingga sekarang ini, orang-orang Kristen
yang memakai bahasa Syria disebut “Suroye”, “Suraye”, “Curcaye”,
sedangkan istilah “Kristen” dipakai untuk orang-orang Kristen Barat.8
Rasul9 Petrus10 dipercaya telah mendirikan sebuah gereja di Antiochia
pada tahun 37 M,11 yang sisa-sisanya sekarang terdapat di Antakya (nama
modern dari Antiochia), Turki. Kelanjutan dari gereja inilah yang
sekarang disebut Gereja Ortodoks Syria.
Antiochia pada zaman Yesus adalah ibukota dari Propinsi Kerajan
Romawi, Syria, dan merupakan pusat perdagangan yang penting. Sebagai
sebuah kota yang terpengaruh budaya Hellenistik, Bahasa Yunani
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 3
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
merupakan bahasa yang umum dipakai masyarakatnya, namun mayoritas
masyarakat di berbagai daerah, terutama yang berada diluar kota memakai
bahasa Syria (Suryani), dialek Edessene, dari bahasa Aram, bahasa yang
dipergunakan Yesus.12 Bahasa inilah yang sampai sekarang dipakai sebagai
bahasa resmi gereja (disamping bahasa lokal seperti bahasa Arab, Kurdi,
Turki, Malayalam, dsb.)13
Gereja Antiochia memainkan suatu peran yang penting pada awal
sejarah Kekristenan. Mereka memainkan peranan dalam tiga konsili yang
pertama, yaitu konsili pada Nicea ( 325 M.), Constantinople ( 381 M.),
dan Ephesus ( 431 M), yang merumuskan doktrin Kristen awal. Setelah
konsili Chalcedon (451 M. ), gereja Anthiochia terpecah menjadi dua,
yang menerima hasil dari konsili Chalchedon disebut Gereja Ortodoks
Timur Anthiochia dan yang menolak dikenal sebagai Idto
SuryoytoTreeysath Shubho (Gereja Ortodoks Syria)14.
Bersama dengan Gereja Alexandria (Koptik), kedua gereja yang
menolak konsili Chalcedon ini, kemudian disebut Gereja Ortodoks
Oriental.15 Selain karena penolakan terhadap keputusan konsili
Chalcedon, sebab lain yang mejadikan perpecahan dalam gereja di Timur
ini adalah kesadaran kebangsaan yang melawan kuasa pusat kekaisaran.16
Akibat dari perpecahan ini, Gereja Ortodoks Syria menjadi gereja
yang paling teraniaya oleh sesama Kristen. Mereka menjadi sasaran fitnah
dan dicap sebagai aliran heresy (sesat) bahkan penganiayaan fisik oleh
pihak Byzantium, dan justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan
mereka.17 Nasib yang sama juga menimpa Gereja Koptik di Mesir. Kisah
gugurnya Menas, Saudara Pathriach Benyamin, pada tahun 632 M. di
tangan Cyrrus, utusan Kaisar Heraklitus, telah mendorong mereka lebih
menyambut pemerintahan Islam sebagai pembebas mereka kira-kira 7
tahun sesudah peristiwa tersebut.18
Ketika umat gereja Syria menolak pemaksaan budaya Yunani, Kaisar
Byzantium mengasingkan Patriach Severus ke Mesir pada tahun 518 M.,
bersamaan dengan penganiayaan uskup dan para imam gereja. Tahta
kepatriachan direbut secara paksa dan ditempatkanlah “pathriachpatriach
boneka kaisar di Syria dan Mesir.19
Kedudukan Patriach Gereja Orthodoks Syria ini akhirnya berpindahpindah
dari satu biara ke biara yang lain yang mencakup Qartmin,
Qenneshrin ( Chalkis, dekat Aleppo), Malatya, dan Amid ( Diyarbakir),
dan akhirnya pada tahun 1293 M. menetap di Dayro d-Mor Hananyo
4 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
(juga dikenal sebagai Kurkmo Dayro dalam bahasa Syria dan Deir Zafaran
dalam Bahasa Arab) di daerah Mardin, Turki. Sampai pada tahun 1933
M. ketika keadaan politik memaksanya berpindah ke Homs, Syria, dan
kemudian ke Damaskus pada tahun 1959 M.20 Kantor Patriachat sekarang
ini berada di Bab Touma, Damaskus, ibu kota Syria; tetapi patriach
bertempat tinggal di Biara Mor Aphrem di Ma‘arat Sayyidnaya, yang
berlokasi kurang lebih 25 km sebelah utara Damaskus21
Di tengah semua kesengsaraan tersebut, Gereja Ortodoks Syria
melahirkan beberapa orang suci termasyhur yang pekerjaan dan hidupnya
mempunyai pengaruh yang besar tidak hanya pada tradisi Syria saja tetapi
juga pada banyak umat Kristen lain. Ilmuwan gereja seperti Mor Ya‘qub
dari Edessa, George, Uskup dari orang-orang Arab, dan Musa Bar Kepha
memainkan suatu peran penting dalam mentransfer pengetahuan Yunani
ke dunia Arab. Beberapa pengarang dari gereja ini juga telah
menghasilkan beberapa historiography yang penting, di antaranya adalah
Sejarah Gereja karya Yohanes dari Ephesus, catatan sejarah karya Jacob
dari Edessa, catatan sejarah dari Zuqnin, catatan sejarah dari Patriach
Mikhayel Rabo, serta chronography dan sejarah gereja karya Gregorius
Bar ‘Ebroyo.22
Dalam perkembangannya, gereja ini juga tidak terlepas dari
perpecahan. Sekitar abad ke 7, ada perselisihan di dalam tubuh Gereja
Syria sendiri, pengikut St. Maron di Lebanon membentuk Gereja Maronit
dan patriakhnya bergelar, Patriarch of Antioch. Gereja ini kemudian
menyatukan diri dengan Gereja Roma. Pada abad ke 18, sebuah kelompok
memisahkan diri dari Gereja Ortodoks Yunani, kemudian bergabung
dengan Gereja Roma Katolik dan membentuk Gereja Yunani Katolik,
patriakhnya juga bergelar Patriarch of Antioch. Dalam seperempat kedua
pada abad yang sama, sebuah kelompok memisahkan diri lagi dari Gereja
Ortodoks Syria dan mendirikan gereja dengan nama Gereja Katolik
Syria, yang berkomuni dengan Gereja Roma.
Gereja di Malankara (Kerala, India) merupakan bagian dari Gereja
Ortodoks Syria. Rasul Thomaslah yang diutus dari Edessa ke India untuk
mengabarkan Injil, dan inilah cikal bakal Kekristenan Syria di India.23
Menurut tradisi, Rasul Thomas tiba di India tahun 52 Masehi dan
meninggal tahun 72 Masehi di kota Mylapore, Chennai (sekarang Madras).
Kekristenan di India pada saat itu kental sekali dengan nuansa Syria
hingga akhirnya bangsa Portugis memperkenalkan tradisi Latin pada abad
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 5
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
16 Masehi. Pemimpin spiritual dari Gereja Ortodoks Syria Malankara
disebut dengan Syriac Orthodox Patriarch of Antioch. Pemimpin lokalnya
disebut Catholicos of the East 24
Kepala Gereja Ortodoks Syria sekarang ini adalah Patriach Ignatius
Zakka I Iwas. Gereja ini terdiri dari 26 archdiosis (keuskupan agung)
dan 11 patriachal vicarat. Patriach Zakka ditahbiskan sebagai kepala
gereja pada tanggal 14 September 1980 M.25 Patriach Ortodoks Syria
biasanya dikenal dengan namanya sendiri, tetapi sejak tahun 1293 M.,
Patriach Antiochia memakai nama Ignatius, dan berlanjut sampai
sekarang. Dimana Ignatius Zakka I menjadi patriach yang ke 122.26
Pemimpin tertinggi dari Gereja Ortodoks Syria adalah “Patriach
Antiochia dan seluruh daerah Timur”, ia juga memimpin Synod Suci,
majelis dari seluruh uskup. Pemimpin lokal dari gereja di Malankara India
adalah “Katolikos dari India” Basilius Thomas I, berada dibawah yurisdiksi
dari Patriach Antiochia dan bertanggung jawab pada Synod Suci, dan
synod lokal Malankara. Dia ditahbiskan oleh patriach, dan memimpin
Synod Suci Lokal.
Pemimpin dari setiap Keuskupan Agung adalah seorang Uskup Agung,
yang berada dibawah yurisdiksi dari patriach dan bertanggung jawab pada
Synod Suci, ia juga ditahbiskan oleh patriach dan paling sedikit dua
orang uskup.
Setiap kepastoran diangkat seorang imam yang berada dibawah
yuridiksi uskup agung dan langsung bertanggungjawab kepadanya.
Kepastoran dijalankan oleh sebuah komite yang dipilih oleh jamaah
kepastoran dan dikukuhkan oleh uskup agung Deacon membantu imam
dalam administrasi peribadahan, setiap keuskupan agung biasanya
mempunyai seorang deacon agung yang dijuluki “tangan kanan dari
uskup”.
Di Gereja Ortodoks Syria terdapat tiga tingkatan kependetaan, yaitu:
Episcopate (uskup), meliputi tingkatan patriach, chatolicos, uskup agung,
dan uskup. Vicarate (imam), meliputi sub-uskup dan pastor. Deaconate
(deacon), meliputi deacon agung, evangelical-deacon, sub-deacon, lektor
atau qoruyo dan penyanyi atau mzamrono. 27
Pengikut dari Gereja Ortodoks Syria ini di seluruh dunia diperkirakan
berjumlah sekitar 2.250.000 orang, termasuk 1.200.000 orang di India,
dengan memasukkan pengikut dari Gereja Ortodoks India. Gereja
Ortodoks India ini kadang-kadang disalahpahami sebagai bagian dari
6 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Gereja Ortodoks Syria, walaupun mereka berasal dari satu tradisi dan
suatu saat berwadah tunggal, mereka terpecah dalam dua bentuk yang
independen. Satu otonomi dibawah Gereja Ortodoks Syria, dan yang
lain Gereja India Ortodoks yang authocephalous.28 Di Syria terdapat
680.000 orang pengikut, dan di Turki berjumlah 5.000 orang. Sedangkan
di Jerman 70.000 orang, di Swedia 60.000, di Belanda 15.000, dan sejumlah
besar pengikut di Amerika Utara dan Selatan serta Australia.29
Di Indonesia pengikut gereja ini memang belum cukup banyak, baru
sekitar 100 orang. Tapi kalau simpatisan, sudah mencapai ribuan. Untuk
menjadi pengikut resmi di Indonesia belum bisa dilakukan, karena Gereja
Ortodoks Syria di Indonesia belum mempunyai imam dan gereja. Padahal
untuk bisa menjadi pengikut resmi harus melewati prosedur pembaptisan
seorang imam. Di Indonesia, gerakan dari para pengikut gereja ini baru
bersifat studi atau kajian, yang dipelopori oleh Bambang Noorsena sejak
tahun 1997. Sebab itu, untuk sementara ini bagi jamaah yang ingin
menjadi pengikut resmi gereja ini (di Indonesia dinamakan Kanisah
Ortodoks Syria) harus melalui prosedur pembaptisan Abuna Abraham
Oo Men di Singapura30.
Gereja Ortodoks Syria menjadi anggota dari Dewan Gereja-gereja
se-Dunia,31 sejak tahun1960 M., dan juga salah satu pendiri dari Dewan
Gereja-gereja Timur Tengah. Gereja ini juga mengambil bagian dalam
dialog ekumeni dan teologi dengan gereja-gereja lainnya. Sebagai hasil
dari dialog ini adalah dihasilkannya deklarasi dengan Gereja Katolik
Roma dan yang lainnya degan Gereja Ortodok Timur.32
Paralelisasi Gereja Ortodoks Syria dan Islam dalam Aspek
Bahasa Teologis
Salah satu batu sandungan dalam dialog Islam - Kristen dalam catatan
Alfred Guillame adalah ajaran Trinitas dalam Kristen.33 Namun
pemahaman orang Islam tentang Trinitas ini lebih bersumber pada dogma
yang dikemukakan oleh Gereja-gereja Barat.
Gereja Ortodoks Syria (Antiochia) bersama dengan Gereja
Alexandria (Koptik) menolak rumusan yang dihasilkan oleh Konsili
Chalcedon, - yang diterima oleh Gereja Barat, Roma dan Konstantinopelyang
menyatakan kesatuan pribadi Yesus “dalam dua kodrat”.
Selengkapnya sebagai berikut:
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 7
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
“Sesungguhnya kami bersama-sama dengan sepakat memahami, bahwa Putra
Yang Tunggal, yang tidak lain yaitu Gusti kita Isa al-Masih, adalah sempurna
dalam keilahian (sebagai Firman Allah) dan sempurna dalam kemanusiaan,
benar-benar ilahi dan benar-benar insani, mempunyai jiwa akali dan tubuh,
sehakikat dalam dzat dengan Bapa dalam kodrat Ilahi-Nya, dan sehakikat
dalam dzat dengan kita dalam kodrat insani-Nya, dalam segala hal sama dengan
kita kecuali dalam hal berbuat dosa, dilahirkan dari Allah sebelum segala abad
dalam kodrat Ilahi-Nya sebagai Firman Allah, dan dilahirkan demi kita dan
demi keselamatan kita, dalam kodrat insani-Nya dalam zaman akhir ini dari
Perawan Maria, Bunda(Firman) Allah. Sesungguhnya hanya ada satu-satunya
al-Masih, yang tidak lain adalah Sang Putra, Gusti, Putra Allah yang tunggal
dalam dua kodrat, tidak berbaur, tidak berubah, tidak terbagi dan tidak terpisah.
Karena kesatuan-Nya tidak menghilangkan kedua kodratnya, tetapi sifatsifat
kedua kodrat itu tetap terpelihara, yang pada akhirnya menjadi satu
pribadi dan satu zat, dimana kodrat itu tidak tercerai dan tidak terbagi menjadi
dua pribadi, tetapi hanya ada satu Putra yang tunggal, yang tidak lain adalah
Firman Allah dan Gusti kita Isa al-masih.”34
Kedua gereja tersebut mengikuti satu ajaran Kyrilos dari Alexandria,
bahwa Yesus mempunyai “satu kodrat ganda”, yaitu satu kodrat Firman
Allah yang menjadi manusia. Sebagaimana kesalahfahaman Gereja Barat
atas kristologi non Chalcedonia, demikian pula Theodoretus dari Cyrus
pernah menuduh seolah-olah dengan penekanannya atas ajaran Firman
Allah yang menjdi manusia itu, Kyrillos mengajarkan seolah-olah Allah
dapat menderita. Padahal Kyrillos menekankan bahwa penderitaan itu
dialami al-Masih “dalam tubuh kemanusian-Nya” (Petrus I, 3:18), bukan
dalam kodrat Keilahian-Nya sebagai firman yang tidak dapat menderita
dan tidak dapat mati.
Prinsip ini diuraikan Kyrilos sebagai berikut: “Kami tidak memisahkan
kemanusiaan al-Masih dari keilahian-Nya sebagai firman Allah, dan tidak
pula memisahkan keilahian Firman Allah dari kemanusian-Nya setelah
kesatuan wujud nuzul-Nya yang tidak tersifatkan itu. Sebaliknya kami
mempertahankan bahwa al-Masih itu satu yang berasal dari dua, menjadi
satu sedemikian rupa dari dua, dimana kesatuan itu tidak rusak oleh
kedua kodrat-Nya atau berbaur satu dengan yang lain, melainkan satu
kesatuan mulia dalam keunikan”.35
Hal ini dipertegas oleh Severius yang menyatakan: “Aku percaya dan
memahami bahwa Allah itu Esa, yaitu Bapa, Pencipta dan Tuhan, dan
bahwa Firman Allah yang tunggal yang dilahirkan dari kekekalan, adalah
juga Dia yang telah menjadi manusia, tanpa adanya pembagian dengan
8 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
kesatuan hypotasis-Nya dari Ruh Kudus dan dari Perawan Maria, Bunda
(Firman) Alah, yang secara tubuh sehakikat dengan kita, memiliki jiwa
dan akal yang menyatu dengan tubuh insani. FirmanAllah yang satu
menjadi manusia, ilahi sekaligus insani. Seperti kesatuan Firman Allah
dengan Allah dalam Dzat-Nya, Ia juga sehakikat dengan kita secara
tubuh. Putra Allah itu satu berasal dari dua kodrat yang disatukan dengan
wujud nuzul-Nya, satu tanpa tebagi menjadi dua. Aku juga memahami
bahwa Ruh Allah itu sehakikat dengan Allah dan Firman-Nya dalam
Dzat-Nya. Keluar dari Allah secara kekal, mengatasi zaman.”36
Gereja Ortodoks Syria juga tidak menerima hasil Konsili
Konstantinopel III (680-681 M.) yang melahirkan ajaran monoteletisme,
yang menyatakan Yesus hanya mempunyai kehendak tunggal. Padahal
tanpa kehendak manusia Yesus tidak mungkin menjadi manusia sejati,
dan tidak dapat dikatakan bahwa Ia “sama dengan kita, Ia telah dicobai”
(Ibrani 4:15).37
Demikian juga keputusan Konsili Toledo (568), yang menambahkan
filiouque38 dalam :Qanun al Iman, bahwa Ruh Kudus keluar dari Bapa
dan Putra, ditolak oleh gereja ini.39
Dalam menjelaskan ajaran Trinitas, gereja-gereja ortodoks di Timur
mempertahankan bahwa sumber keilahian hanya satu, yaitu wujud Allah
(dikiaskan Bapa); Wa an la ilaha ilalah al-Ahad….wa huwaal-Abu lladzi
minhu kullu syai’in. Sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Allah, Yang Maha
Esa, yaitu Bapa yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu (Kor. I,:4-6,
teks bahasa Arab). Dari satu Esensi kekal inilah, Firman Allah keluar
sebelum segala zaman (Divine Birth of the Son, Injil Yoh.1:1-3) dan
bersamaan dengan itu Hayat/Ruh Allah juga berasal;”…yaitu Ruh
Kebenaran yang keluar dari Bapa” (Yohanes 15:26, teks Arab: Ruh al
Haqq al-munbasyiqu min al-Ab).40
Dengan demikian, gereja-geeja timur menegaskan bahwa Ruh Allah
itu(seperti juga Firman-Nya) sama-sama keluar dari Allah, dan bukan
Ruh Allah keluar dari wujud-Nya (Bapa) dan Firman-Nya (putra), yang
dalam pandangan geeja-gereja Timur dianggap mencederai keesaan-Nya.
Untuk menegaskan kesatuan yang mendalam antara karya keselamatan
al-Masih dengan Ruh Kudus, gereja-gereja timur bias saja menerima
rumusan bahwa Ruh Allah itu keluar dari Allah sebagai satu-satunya
esensi Ilahi, tetapi penerimaan Ruh Allah itu ke dunia melalui Putra,
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 9
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
yaitu sosok nuzul Firman sebagai manusia dalam karya-Nya sebagai
Mesiah.41
Dalam makna inilah Ruh Allah itu juga disebut Ruh Yesus (kisah
15:7; Filipi1:19). Maksudnya bukan Ruh yang keluar dari Yesus, melainkan
Ruh yang diutus Bapa demi nama Mesiah:”tetapi Penghibur, yaitu Ruh
Kudus, yang diutus oleh Bapa demi Nama-ku” (Yohanes 14:26).42
Dalam Kristen Ortodoks, ditegaskan: al ‘aql al-Ilahy al-kainu fi adz
Dzat al-Ilahy mundzu ‘azaly, (Akal Ilahi {Firman Allah} berdiam dalam
Dzat Ilahi sejak azali). Tidak pernah ada sekejappun dalam suatu waktu,
di mana Dzat Ilahi itu ada tanpa ‘aql atau pikiran-Nya, karena itu ‘aql
atau pikiran-Nya tersebut berada dalam Allah tanpa pemisahan dengan-
Nya, sebab Allah itu tidak terbagi-bagi.43
Para teolog Kristen berbahasa Arab sering menerjemahkan padanan
istilah Bapa dan Putra dan Ruh Kudus sebagai: al-wujud, al-‘ilmu dan alhayat
(istilah-istilah yang juga sering dipakai dalam Ilmu Kalam). Dengan
demikian, berbicara tentang ‘Ilm al-Qadim (The Divine Logos) dan Hayat
al-Qadim (The Divine Life) dalam Wujud al_qadim (The Divine Subtance),
tanpa mengakibatkan ta’tudud al-qudama (terbilangnya Yang Qadim),
sebenarnya hanya menegaskan aspek-aspek dalam keesaan Allah itu
sendiri.44
Fakta ini, menurut Bambang yang diakui Oleh Taib Thahir Abdul
M’uin45 yang menggolongkan pandangan diatas dalam madzhab Wahdah
(mengakui keesaan Allah).46
Selanjutnya dalam literatur Arab istilah Allah (lebih khusus
dibandingkan dengan istilah-istilah padanannya: elohim, Theos, Dieu,
God), lebih menunjuk kepada Bapa itu sendiri. Karena itu dalam
lingkungan Kristen Arab, tidak disebutkan: Allah al-Mutajjasad (Allah
menjadi Manusia), tetapi lebih dikenal istilah Ibnullah al-mutajjasad (Putra
Allah menjadi Manusia). Maksudnya: wa Kalimatuhu wa huwa nazala
minas sama’ (yaitu Firman-Nya yang telah turun dari surga), atau: wa
Kalimatuhu al-Mutajjasad (dan Firman-Nya yang menjadi Manusia).47
Jadi, gelar Tuhan bagi Yesus bukan dalam makna Tuhan (ilah) selain
Allah, melainkan “rabb atau Tu(h)an bagi kemuliaan Allah” (Filipi 2:11).
Dalam bahasa Aram (Syria): mara hu yeshu’a mashiha le shebaha de alaha.
Frase le shebaha de alaha (bandingkan dengan bahasa Arab; subhanallah),
menunjukkan bahwa melalui karya Mesiah itu ketuhanan Allah
dilaksanakan, sehingga semua makhluk bertasbih memuji Allah. Jadi,
10 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
sekali lagi, gelar ketu(h)anan Yesus, sama sekali tidak menempatkan
kemanusian-Nya sebagai ilah selain Allah.
Keilahian Yesus menunjuk kepada kodrat Ilahi-Nya sebagai sebagai
Firman Allah, yang kekal dan bukan bersifat fisik, sebanding dengan
penghayatan Islam mengenai kalam nafsi yang kadim dan berdiri pada
Dzat Allah. Sedangkan ketu(h)anan-Nya menunjuk kepada kodrat
insani-Nya, yang karena ketaatan dalam melaksanakan kehendak Allah,
Yesus digelari Tu(h)an bagi kemuliaan Allah. Selanjutnya wujud nuzul
kemanusiaan Yesus tersebut sebanding dengan penghayatan Islam
mengenai kalam lafdzi, yaitu wujud temporal kalam Allah yang nuzul
dalam ruang dan waktu sebagai “al-Qur’an dalam bahasa Arab (Q.S.
Thaha:113).48
Kesesajaran selanjutnya juga bisa dibandingkan antara makna teologis
keperawanan Maria dengan tafsiran Islam tentang pengertian naby alummy
(nabi yang buta aksara yang diterapkan bagi Muhammad.49
Dalam hal ini Said Aqiel Siradj menilai bahwa Gereja Ortodoks Syria
tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara tauhid alrububiyah,
mereka jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian
alam yang wajib disembah. Secara tauhid al-uluhiyah ia juga telah
mengikrarkan La ilaaha illallah; tiada tuhan (ilah) selain Allah, sebagai
ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah
secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit
tentang sifat dan asma Allah tersebut. Jika dalam Islam (sunni) kalam
Tuhan Yang Qadim itu turun kepada manusia (melalui Muhammad)
dalam bentuk al-Qur’an, maka Kristen Ortodoks Syria berpandangan
bahwa kalam Tuhan turun menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus
dan Perawan Maryam menjadi manusia.50
Parelisasi yang lain adalah dalam penggunaan kata Allah untuk
menyebut Tuhan bagi Kristen Syria dalam bahasa Arab. Kata Allah itu
cognate dengan kata Ibrani: El, Eloah, Elohim, dan Kata Arami: Elah,
Alaha, yang semuanya terdapat dalam Perjanjian Lama aataupun dalam
Targum (komentar-komentar Taurat dalam bahasa Arami yang lazim
dibaca mulai dari zaman sebelum zaman Yesus hingga hari ini).
Hal ini dibuktikan dari sejumlah inskripsi Arab pra-Islam yang
semuanya ternyata berasal dari lingkungan Kristen. Salah satu inskripsi
kuno yang ditemukan pada tahun 1881 di kota Zabad, sebelah tenggara
kota Aleppo, Syria, meneguhkan bukti tersebut. Inskripsi Zamad ini telah
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 11
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
dibuktikan tanggalnya berasal dari zaman sebelum Islam, tepatnya tahun
512. Inskripsi ini diawali dengan perkataan Bism al-Llah, dan kemudian
disusul dengan nama-nama orang Kristen Syria.51
Paralelisasi Gereja Ortodoks Syria dan Islam dalam Pola
Ibadah
Istilah sholat dalam bahasa Arab menunjukkan doa dalam tertib dan
waktu tertentu. Dalam tradisi liturgis Kristen, sejajar dengan istilah
Yunani ðñïóå÷ç (prosekee). Menurut Arthur Jefferey, kata Arab sholat
berasal dari sumber Aram / Suryani/ Syriac, tselota.52
Istilah tselota ini hingga sekarang dilestarikan gereja-gereja yang
masih melestarikan bahasa Suryani (Gereja Ortodoks Syria, Gereja As
Syria/Syria Timur, Gereja Katolik Maronit di Libanon dan Gereja Katolik
Kaldea Kesatuan/Uniate Chaldean di Irak). Sedang kata Arab sholat
dipakai bersama-sama oleh Islam, dan seluruh gereja di Timur Tengah.53
Salat dalam Gereja Ortodoks Syria adalah doa-doa harian pribadi
nonsakramental yang dibedakan dengan ibadah sakramental atau ibadah
kurban (ekaristi); “and they continued steadfastly in the apostles’ doctrine
and fellowship, in the breaking bread and in prayers” (Kis. 2:42, RSV/Revised
Standard Version).
Sebenarnya kedua model ibadah gereja purba ini berakar dari dua
corak ibadah Yahudi:siddur (tiga waktu ibadah harian pribadi) dan mahzor
(tiga ibadah kurban / hag, pararel dengan istilah Arab: hajj) yang dirayakan
bersama-sama di kota suci Yerusalem: Paskah (hag ha pesah), Pondok
Daun (hag hassukot), dan Pentakosta (hag hassavuot). Selanjutnya,
Mazmur 55:18 menyebut tiga waktu ibadah sehari-hari Yahudi: erev we
bokir we tsohorayim (waktu petang, pagi, dan tengah hari). Istilah erev
dan tsoharayim bisa dibandingkan dengan kata Arab; maghrib dan dhuhur.
Rujukan tertua tentang ibadah harian gereja terdapat dalam buku
Didache54 yang ditulis sezaman dengan Injil Yohanes (sekitar tahun 90-95
M.). Buku tersebut masih mengikuti pola Yahudi yang menganjurkan
tiga kali sembahyang. Umat Kristen juga melestarikan jam-jam doa
menurut hitungan Yahudi, dan Al-Kitab menyebut beberapa waktu
sembahyang tersebut, misalnya Kisah Para Rasul 10:9, ùñá åêôçõ (jam
keenam) yang sejajar dengan pukul dua belas siang (dhuhur), Kisah
Para Rasul 3:1 dan 10:30, ùñá åõáôçõ (jam kesembilan) yang sejajar
dengan pukul tiga petang (asyar).
12 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Karena itu, berdasarkan perenungan yang mendalam atas misteri jalan
sengsara al Masih, dan jam-jam lain yang terkait dengan paripurnanya
karya keselamatan (misalnya: nuzulnya Ruh Kudus, ùñá ôñéôç·, jam
ketiga, waktu dhuha yang sejajar pukul sembilan pagi), dan kebiasaan
para nabi dan para rasul berdoa di tengah malam (Mzm. 119:62; Kis.
16:25), maka gereja purba mengembangkan ketujuh waktu sholat.
Rujukan paling lengkap tentang hal ini, termuat dalam dokumen
Konsitusi Rasuli (tahun 380) dan keterangan Mar Basilius Agung (330-
379) dalam Regulae Fusius Tarctate. Hampir semua Bapa Gereja menulis
tentang tradisi sholat ini, baik di Timur seperti Mar Yuhanna Dahabi al-
Fam / Yohannes Chrysostomos (354-407), maupun di Barat seperti St.
Hieronymus / Yerome (340-420).
Ketujuh sholat ini sama persis dengan sholat-sholat Islam, yaitu kelima
sholat wajib: subuh, dhuhur, ‘asyar, maghrib, dan isya’, ditambah dua sholat
sunnah dhuha dan tahajjud. Tradisi sholat tujuh waktu dipelihara secara
utuh oleh gereja-gereja Timur, tetapi dalam hal ekpresi lahiriah ibadah
(postur ruku’ dan sujud) hanya Gereja Ortoks Syria yang meneruskan
ritual Yahudi dan adab timur lainnya, dimana pola ibadah yang sama
juga dilestarikan oleh umat Islam.55
Bedanya, bila kaum Muslimin diwajibkan shalat 5 kali sehari,
penganut Gereja Ortodoks Syria lebih banyak lagi, 7 kali sehari setiap 3
jam. Mereka menyebutnya: sa‘atul awwal/ saphro (fajar/shubuh), sa‘atuts
tsalis/ tloth sho‘in (dhuha), sa‘atus sadis/ sheth sho‘in (dhuhur), sa‘atut tis‘ah
tsha‘ sho‘in (ashar), sa‘atul ghurub/ ramsho (maghrib), sa‘atun naum/ sootoro
(isya‘), dan sa‘atul layl/ lilyo (tengah malam).56
Hari Gerejawi dimulai pada sore hari saat matahari tenggelam, contoh
hari Senin dimulai pada saat matahari tenggelam pada Minggu sore. Oleh
karena itu sholat “maghrib” (ramsho) dan “isya’”( sootoro) dilakukan pada
hari Minggu.57
Di beberapa biara sekarang ini, sholat ini diringkas menjadi 3 kali,
yaitu dengan menggabungkan antara mahgrib dan isya’, tengah malam
dengan shubuh, serta antara dhuha, dhuhur dan ashar.58 Bahkan jika
para penganut Ortodoks Syria ini ada kesibukan boleh dilakukan dua
kali perhari, yaitu pada waktu fajar dan ketika matahari terbenam . Kalau
yang ini masih juga tak mampu, bisa dilakukan satu kali dalam seminggu,
yakni pada hari Minggu.59
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 13
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Adapun tata cara sholatnya dimulai dengan posisi berdiri yang
dipimpin oleh seorang imam berpakaian jubah warna hitam. Imam
meletakkan kdua tangan didada, membuat tanda salib lalu mengucapkan
lafald dalam bahasa Arab: Bismil Abi wal Ibnni wa Ruhil Quddus Ilahu
Wahid (Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Allah Yang Maha
Esa). Jamaah menyambutnya Amin. Imam melanjutkan berdoa dengan
mengangkat kedua tangan dan disahuti oleh jamaah.
Setelah membuat tanda salib berikutnya, imam membungkukkan
badan seperti posisi ruku’dan mengucapkan Quddusun Anta ya Allah
(Kuduslah Engkau, ya Allah). Jamaah menyahut: Dengan menyucikan
nama Allah Yang Maha Kuasa, yang Tak Berkematian. Jamaah memohon
kasih sayang Allah yang telah disalibkan sebagai ganti umat manusia.
Imam berdiri tegak dan menengadahkan tangan lagi, lalu imam bersujud,
dan diikuti seluruh jamaah. Ketika bangun dari sujud, imam membaca
Subhanaka Allahumma (Maha Suci Engkau, ya Allah), jamaah menyahut
bersamaan. Sambil menengadahkan tangan, imam dan jamaah membaca
Doa Rabbaniyah (Doa Bapa Kami versi bahasa Arab). Selanjutnya dibaca
Salam Walidatullah (Salam Maria). Imam kemudian membaca petikan
Mazmur dalam bahasa Aramaik(Suryani).60
Setiap salat terdiri dari tiga rakaat (satuan gerakan). Pada rakaat
pertama hanya dilakukan qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan
rukuk, dan sujud. Pada saat rukuk dan sujud ini dilakukan gerakan
tanda salib, dan doa yang digunakan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani,
dan Ibrani, lalu dibacakan pujian (qari’ah) yang dikutip dari kitab Mazmur.
Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al iman, semacam
pengakuan kepada Tuhan (syahadat) yang dikenal dalam Gereja
Ortodoks.
Tak hanya itu, sebelum salat ditunaikan, ada semacam azan, panggilan
untuk salat. Dalam panggilan salat ini ada kalimat yang mirip dalam
Islam, misalnya hayya alasshalah (marilah kita sholat). Hayya alasshalah
bissalam (marilah kita salat dengan damai). Dan, sebelum acara salat
dilakukan, diawali dengan pembacaan Injil.
Pada saat salat, mereka menghadap ke timur, mengikuti tradisi Yesus
yang kala itu menghadapkan kiblat salatnya ke Baitul Maqdis, Jerusalem,
dan karena Jerusallem hancur, selanjutnya orang-orang Kristen
menjadikan tubuh Jesus sendiri sebagai kiblat. Hanya karena tubuh Jesus
kini di surga (istiwa all yaminillah), sesuai dengan Ayat Kejadian: 28, yang
14 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
menyatakan surga di timur, salat mereka menghadap ke timur. Tak hanya
itu persamaan dengan Islam. Tenyata mereka juga mengenal haji. Ibadah
haji ke Palestina ini termasuk ibadah non-sakramen, seperti juga salat,
zakat persepuluhan, serta puasa. Berdasar Kitab Ulangan 16: 16-17
disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang
Pekan Kudus (perayaan Paskah). tiga kali dalam setahun. Dan
sepulangnya, setiap orang Kristen Ortodoks mendapatkan sertifikat dari
Patriakh Jerusalem dengan sebutan hadzi (untuk pria) dan hadzina (untuk
wanita).61
Puasa wajib bagi pemeluk Islam yang dilakukan selama sebulan dalam
setahun, dikenal dengan shaumu ramadhan. Sedang pada Gereja Ortodoks
Syria disebut shaumil kabir (puasa 40 hari berturut-turut) yang dilakukan
sekitar bulan April. Jika dalam Islam ada puasa sunnah Senin-Kamis,
pada Gereja Ortodoks Syria dilakukan pada Rabu-Jum’at, dalam rangka
mengenang kesengsaraan Kristus. Selain salat dan puasa, jamaah gereja
ini juga mengenal ajaran zakat. Zakat, dalam ajaran Gereja Ortodoks
Syria, adalah sepersepuluh dari pendapatan bruto. Tidak sebatas itu saja,
perempuan pengikut Gereja Ortodoks Syria juga mengenakan jilbab plus
pakaian panjang ke bawah hingga di bawah mata-kaki.62
Penutup
Konflik antar agama tidak pernah “telanjang bulat” sebagai konflik
pandangan teologi, namun faktor-foktor teologis sangat potensial dijadikan
pemicu yang mengikuti, kalau bukan memperuncing konflik-konflik
politik dan faktor non teologis lainnya.
Selain tulisan diatas, tentu masih banyak tema teologis lain yang
masih bisa diajukan, namun dari ajaran-ajaran Gereja Ortodoks Syria,
yang belum banyak dikenal di Indonesia, kita bisa menggali dasar yang
lebih mendalam dalam hubungan Islam-Kristen, dalam suasana sharing
of religious experience, sehingga sikap keagamaan yang lapang dan tasamuh
- atau menurut istilah Cak Nur: al-Hanifiyah al-Samhah-dapat
dikembangkan dalam masyarakat plural seperti Indonesia, khususnya
melalui dialog antar agama.[]
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 15
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Catatan Akhir:
*Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Semarang. Alamat: Jl. Yanjungsari Rt. 07/V Tambakaji Ngaliyan
Semarang. Hp. 081325705975
1Nama ini dipakai berdasarkan keputusan Sinode tahun 2000,
sebelumnya nama yang dipakai dalam bahasa Inggris adalah Syrian
Orthodox Church, nama ini dirubah untuk menunjukkan bahwa gereja
ini tidak berkaitan dengan pemerintah Syria. Lihat Wikipedia, the free
encyclopedia, Syriac Orthodox Church, http://en.wikipedia.org/wiki/Syriac
Orthodox Church, diakses tgl. 29 Nopember 2007.
2Nama ini diberikan oleh musuh Gereja Orthodoks Syria dengan
maksud merendahkannya dan berusaha membuat opini bahwa gereja ini
didirikan oleh Jacob Baradaeus. Pada abad keenam, Gereja Orthodoks
Syria mengalami penyiksaan dibawah kendali Kekaisaran Byzantium yang
memaksakan ajarannya. Pada situasi inilah Jacob Baradaeus tampil. Ia
melakukan perjalanan ke daerah Timur dan menetapkan Imam dan
Diakon untuk mencegah lenyapnya Gereja ini. Jacob dianggap sebagai
pahlwan iman di Gereja Orthodoks Syria, tetapi bukan pendirinya. Perlu
diketahui, bahwa Kekristenan Orthodoks Syria yang di Malankara (India)
tanpa pikir panjang menyebut diri mereka sebagai Jacobit. Padahal selama
berabad-abad mereka disebut Nasrani. Istilah Jacobit pertama kali
dikenalkan di Malankara pada abad 19 oleh jemaat Anglikan. Lihat
FAQ, http://www.angelfire.com/journal2/iscs/faq.htm, diakses tgl. 27
Desember 2007.
3Ajaran yang dikemukakan oleh Eutyches seorang rahib dari Gereja
Byzantium, yang mengajarkan bahwa keilahian Yesus sebagai firman Allah
itu sedemikian rupa, sampai menenggelamkan sama sekali kemanusiaan
Yesus dalam keilahian-Nya itu. Ajaran ini sangat meresahkan gereja,
karena dengan menyangkal kemanusiaan Yesus dan hanya mengakui
keilahian-Nya, akan berarti pula bahwa Firman Allah dapat menderita
dan mati ditiang salib. Lihat Bambang Noorsena, Memahami
Kesalahfahaman, Beberapa tema teologis dalam Perjumpaan Kristen-Islam,
(Denpasar:Bali Jagadhita Press,2002), h. 50.
4Gereja ini menolak dogma kristologis yang dikeluarkan oleh Konsili
Chalcedon (451 M.), yang enyatakan bahwa Yesus memiliki dua hakikat
(Diofisit), ilahi dan insani, yang tidak terpisahkan dan hanya bertindak
16 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
sebagai satu hypotasis. Lihat Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas
berbahasa Indonesia, Gereja Ortodoks Oriental, http://id.wikipedia.org/
wiki/Gereja-Ortodoks-Oriental, diakses tgl. 29 April 2007.
5Miafisitisme (terkadang disebut henofisitisme) adalah kristologi dari
Gereja-Gereja Ortodoks Oriental. Menurut miafisitisme, dalam satu
pribadi Yesus Kristus itu, keilahian dan kemanusiaan dipersatukan dalam
satu “hakikat” (“fisis”), keduanya dipersatukan tanpa pemisahan, tanpa
pembauran, dan tanpa alterasi. Lihat Wikipedia Indonesia, ensiklopedia
bebas berbahasa Indonesia, Miafitisme, http://id.wikipedia.org/wiki/
Miafisitisme, diakses tgl. 27 Desember 2007.
6Wikipedia, the free encyclopedia, loc. cit.
7Al Kitab, Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul;11:26, (Jakarta:Lembaga
Al Kitab Indonesia,1993), h. 169. Lihat juga Syriac Orthodox Resources,
History of the Syriac Orthodox Church http://sor.cua.edu/History/index.html,
diakses tgl. 26 Nopember 2007.
8H.H. Moran Mor Ignatius Yacoub III, About the Syrian Orthodox
Church, http://www.syrianorthodoxchurch.net/Location/Global/SOCindex-
Global-en.htm, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
9Dalam Kristen istilah Rasul itu berasal dari bahasa Ibrani, Shelihah.
Bentuk jamaknya Shelihim. Kisah Rasul-Rasul, bahasa Ibraninya: Miph’a
lot ha-Selihim. Konteksnya sama sekali berbeda dengan istilah rasul dalam
Islam. Istilah shelihah berasal dari sinagoge Yahudi, yaitu wakil dari imam
(kohen) dalam memimpin ibadah. Nah, Yesus dalam iman Kristen diyakini
sebagai imam besar (kohen hanggadol) menurut nubuat dalam Mazmur
110:4.Dalam konteks seperti ini, murid-murid Yesus adalah para “shelihah”
Yesus sebagai Imam Besar. Dalam Alquran, murid-murid Yesus dijuluki
Hawariyin .Ternyata sebutan Hawari berasal dari bahasa Habshi/Ethiopia.
Maknanya sama dengan shelihah tadi. Tetapi entah sebelum zaman Islam
atau sesudahnya istilah rasul diterapkan bagi murid-murid Yesus dalam
bahasa Arab. Lihat Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen
Islam, (Yogyakarta:Yayasan Andi, 2001), h.131.
10Petrus adalah salah seorang dari dua belas murid Yesus yang
merupakan orang pertama dalam gereja dan dianggap sebagai pemimpin
jemaat induk di Yerusalem. Dalam Injil Matius; 16:18, disebutkan:”Dan
Akupun berkata kepadamu: Engkau dalah Petrus dan dia atas batu
karang ini Aku aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak
akan menguasainya”. Bahkan Yesus mengangkat Petrus sebagai kepala
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 17
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
gereja yang tertinggi, sebagaimana diisyaratkan dalam Injil Yohannes;
21:17. Pada awal mulanya jemaat Kristen terdiri dari orang-orang Yahudi.
Merekalah yang disebut dengan jamaat purba atau jemaat Yerussalem,
atau ada pula yang menyebut mereka dengan jemaat Nazaret. Agama
Kristen pada mulanya adalah untuk bangsa Yahudi, suatu agama nasional
bangsa Yahudi. Akan tetapi, ketika Petrus bekerja di Yerussalem, sudah
terdapat petunjuk bahwa dia membaptis seorang warga Roma, bernama
Kornelius, bersama keluarganya di Kaesaria, dekat Yerussalem. Ini berarti
bahwa agama Kristen berubah dari agama nasional bangsa Yahudi menjadi
agama yang bersifat internasional. Hal inilah yang merupakan
permasalahan bagi gereja Yerussalem sehingga Petrus menghadapi
perlawananan. Pada tahun 42 M, ia pindah ke Roma secara misterius,
dan menjadi paus yang pertama disana. Petrus menjabat sebagai paus
selama 25 tahun dan meninggal dunia pada 67 M. Lihat Fathudin Abdul
Gani, “Agama Katolik”, dalam Djam’annuri (ed), Agama-Agama di Dunia,
(Yogyakarta:IAIN Sunan Kalijaga Press,1988), h. 341. Nama asli Petrus
adalah Simon: yang diberi nama Petrus (Bahasa Yunani: petros, petra;
Bahasa Aram: kçf; Bahasa Inggris: rock; Bahasa Indonesia: Batu Karang)
oleh Yesus, dikenal pula dengan sebutan Simon bar Yonah atau Simon
bar Yokhanan (Bahasa Aram), dan sebelum itu disebut dengan nama
(Surat-Surat Paulus lebih dahulu ditulis) Kefas (Bahasa Aram) oleh
Paulus dari Tarsus, dan Simon Petrus, nelayan dari Betsaida “di Galilea”
(Yohanes 1:44; bdk. 12:21) Lihat Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas
berbahasa Indonesia, Keduabelas Rasul, “http://id.wikipedia.org/wiki/
Keduabelas Rasul, diakses tgl. 2 Januari 2008.
11Sumber lain menyatakan tahun 34 M., lihat Wikipedia, the free
encyclopedia, loc. cit.
12Syriac Orthodox Resources, loc. cit.
13Wikipedia, the free encyclopedia, loc. cit.
14Syriac Orthodox Resources, loc.cit.
15Istilah Ortodoks ini muncul pada masa awal gereja, bersamaan
dengan, munculnya aliran “gnostikisme”, yaitu suatu bid’ah Kristen yang
mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan. Dalam
melawan ajaran bid’ah gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu menyebut
ajaran asli yang rasuliah itu sebagai ajaran (“doxa”) yang “lurus” (“orthos”),
Ortho+ doxa = Orthodox. Sedangkan ajaran “gnostik” itu sebagai ajaran
(“doxa”) yang berbeda atau menyimpang (“heteros”), hetero+ doxa =
18 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Heterodox, lihat, Gereja Orthodox Indonesia, Sejarah Gereja
O r t h o d o x , h t t p : / / w w w . g o i n a . o r g /
?uPos=L&uMenu=10&uSys=19&uCaption=Sejarah%20Gereja, diakses
tgl. 27 Desember 2007. Sekarang ini yang termasuk komuni Ortodoks
Oriental adalah; Gereja Apostolik Armenia, Gereja Ortodoks Koptik di
Alexandria yang meliputi: Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia, dan
Gereja Tewahedo Ortodoks Eritrea, Gereja Ortodoks Britania, Gereja
Timur Ortodoks India, dan Gereja Ortodoks Syria, yang meliputi juga
Gereja Ortodoks Syria Yakobit Malankara, lihat Wikipedia Indonesia,
ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Gereja Ortodoks Oriental, loc.
cit.. Sedangkan Gereja Ortodoks Yunani yang pecah dengan Katolik Roma
pada tahun 1054, biasa disebut Eastern Orthodox (Eastern, menunjuk
Roma Timur, yaitu Yunani/Konstantinopel sebagai lawan dari Western,
Roma Barat/Latin). Karena itu dalam bahasa Arab, Gereja Ortodoks
Yunani disebut juga gereja Rumi Ortodoks, untuk membedakan dengan
Rumi Kathuliq. Sedangkan Gereja Ortodoks Syria dan Koptik, lazim
disebut Oriental Orthodox (Ortodoks budaya Timur Tengah). Lihat
Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, op. cit., h. 147.
16J. H. Enklaar, Sedjarah Gereja Ringkas, (Jakarta: Badan Penerbit
Kristen, 1955),h. 29.
17Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, op. cit., h.
42.
18Ibid.
19Mar Ignatius Ya’qub III, Al-Kanisah as-Suryaniyah al-Anthakiyah al-
Orthodoksiyah, (Damaskus: Alif Ba’ al Adib lil Nasyir, 1980), h. 25-27,
dalam Bambang Norsena, op cit,h.96.
20Salim George Khalaf, “The Syriac”, Phoenician Canaanite
Encyclopedia, http://phoenicia.org/syriac.html, diakses tanggal 27
Desember 2007.
21Wikipedia, the free encyclopedia, loc. cit.
22Syriac Orthodox Resources, loc.cit.
23Dalam Kisah Rasul Thomas, yang dianggap apokrif, diceritakan
bahwa sesudah Pentakosta, para rasul mengadakan undian ntuk
menentukan daerah-daerah yang akan mereka kabari Injil, Thomas
mendapat India, tetapi menolak karena takut.Lalu Tuhan membuat dia
dijual sebagai budak kepada seorang India, sehingga ia terpaksa pergi.
Di tengah jalan ia melakukan berbagai mu’jizat. Di India ia mulai
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 19
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
memberitakan Injil, dengan akibat yaitu bahwa wanita-wanita yang
menjadi percaya tidak mau lagi bergaul dengan suami-suami mereka.
Akhirnya permaisuri raja menjadi percaya juga, raja menjadi marah dan
Thomas dibunuh. Lihat Th. Van den End, Sejarah Gereja Asia,
(Yogyakarta:Pusat Penelitian dan Inovasi Pendidikan “Duta Wacana”,
1988), h.14. Thomas juga dikenal sebagai Yudas Tomas Didimus- Kata
Bahasa Aram T’oma’ = kembar, dan kata Bahasa Yunani Didymous=
kembar, lihat Lihat Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia, Keduabelas Rasul, loc. cit.
24FAQ, loc. cit.
25Wikipedia, the free encyclopedia, loc. cit.
26The Syriac Orthodox Church, A Brief Overview, http://sor.cua.edu/
Intro/index.html, diakses tgl.22 Desember 2007.
27St. Thomas Syriac Orthodox Church, http://stsyriacchurch.homeip.net/
history.htm, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
28 Berdiri sendiri dengn satu kepala atau pemimpin.Lihat Wikipedia
Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Denominasi Kristen,
http://id.wikipedia.org.wiki.Denominasi Kristen, diakses tgl . 7 Mei 2007.
29Wikipedia, the free encyclopedia, loc. cit. Sumber lain menyebutkan
jumlah para pengikut Gereja Ortodoks Syria ini di Timur Tengah adalah
670.000 orang, dengan rincian di Syiria; 600.000, Turki; 5.000, Yordania;
50.000, Iraq; 12.000, Libanon; 2.000 dan Mesir;1.000 orang, sedang di
negara-negara lain 2.400.000 orang. Lihat Tore Kjeilen, “Syrian Orthdox
Church”, Encyclopediae of The Orient, http://i.cios.com/e.o/syr.orth.htm.,
diakses tgl. 27 Desember 2007.
30Lambertus L. Hurek, Gereja Ortodoks Syiria di Indonesia, http. //
hurek.blogspot.com/2005/12/gereja.ortodoks.syria.di.Indonesia.html.,
diakses tgl. 27 Desember 2007. Meskipun terdapat berita yang menyatakan
bahwa gereja ini telah mengabarkan Injil pada abad ketujuh di Indonesia
: di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga
ada di Kerajaan Majapahit.Lihat Gereja Orthodox Indonesia, loc. cit.
Demikian juga Abu Salih al-Armini dalam bukunya, Tadhakkur fiha Akhbar
min al-Kanais wa al-Adyar min nawahin Mishri wa al-Iqtha’aih, memuat
informasi mengenai masuknya Injil pertama kali yang dibawa oleh orang
Syria ke Nusantara, yaitu deskripsinya kota Fansur, Sumatra Barat.
Dikisahkan disana sudah banyak Gereja dan orang Kristen di sana berasal
20 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
dari Syria Timur/Nestorian. Lihat Bambang Noorsena, Menuju Dialog
Teologis Kristen Islam, op. cit.,h. 100-101.
31Dewan Gereja-gereja se-Dunia adalah perhimpunan gereja-gereja
yang paling luas dan paling inklusif di antara banyak gerakan ekumenis
lainnya yang bertujuan untuk membentuk kesatuan di antara umat
Kristen. DGD saat ini mempunyai anggota yang jumlahnya lebih dari
340 gereja dandenominasi di lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dan
mewakili sekitar 550 juta orang Kristen. Lihat Wikipedia Indonesia,
ensilopedia bebas berbahasa Indonesia, Dewan Gereja-gereja Se-
Dunia,http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Gereja-gereja_se-Dunia,
diakses 27 Mei 2006.
32Wikipedia, the free encyclopedia, ibid.
33Alfred Guillaume, Islam (Toronto, Canada:Penguin Books,1956),
h. 190-198.
34Bambang Noorsena, Memahami Kesalahfahaman, Beberapa tema
teologis dalam Perjumpaan Kristen-Islam,op. cit, h. 52-53
35Ibid., h. 53-54.
36Ibid., h. 57-58.
37Ibid., h. 58-59.
38Klausa Filioque (filioque artinya “dan [dari] putera” dalam Bahasa
Latin), adalah klausa penuh perdebatan yang ditambahkan ke dalam
Kredo Nicea, yang menjadi perbedaan divisif khususnya antara Gereja
Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Klausa ini disisipkan dalam
naskah asli Kredo Nicea yang berbunyi “Kami percaya akan Roh Kudus
... yang keluar dari Sang Bapa”, sehingga versi yang telah diberi sisipan
tersebut kini berbunyi “Kami percaya akan Roh Kudus ... yang keluar
dari Sang Bapa dan Sang Putera”. Penambahan ini diterima oleh umat
Kristiani Katolik Romawi namun ditolak oleh umat Kristiani Ortodoks
Timur. Banyak Gereja Katolik Timur tidak menggunakan klausa tersebut
dalam kredo mereka, namun mengakui dokrin yang terepresentasi di
dalamnya, karena klausa ini adalah dogma dalam iman Katolik Romawi.
Sejauh ini Gereja Protestan juga menerimanya. Klausa ini lebih sering
disebut “filioque”. Lihat Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas
berbahasa Indonesia, Filoque, http://id.wikipedia.org/wiki/Filioque, diakses
tgl. 2 Januari 2008.
39Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, op. cit.,h.20.
40Ibid., h. 21.
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 21
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
41Gelar untuk Yesus yang berasal dari bahasa Ibrani, Mesias, dalam
bhs Yunani diterjemahkan, Khristhos, bahasa Arab, Al Masih, yang berarti:
“yang telah diurapi”. Maksud gelar ini yaitu Yesus telah diurapi Allah
menjadi Juru Selamat Dunia. Lihat, Nico Syukur Dister, Kristologi, sebuah
sketsa, (Yogyakarta:Kanisius, 1993), h. 24.
42Bambang Noorsena, Memahami Kesalahfahaman, Beberapa tema
teologis dalam Perjumpaan Kristen-Islam,op. cit, h.29.
43Anba Yuanis, ‘Aqidat Al-Masihiyyin fi al Masih, (Kairo: Mathraniyyat
al-Aqbaath Al-Orthododoks bi Al-Ghurubiyyah, 1980), h.34-35, dalam
Bambang Noorsena, Ibid., h. 16.
44Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, op. cit.,h.23.
45Lihat Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, (Jakarta: Widjaya,
1986), h.54-55.
46Ibid, h. 23, hanya saja menurut Bambang, ada kesalahan identifikasi
madzhab-madzhab Kristen di Timur Tengah, mazdhab yang digolongkan
Wahdah dianggap dianut Nestorian (lebih tepat gereja Assyria Timur
yang sebenarnya tidak pernah menjadi penganut Nestorius). Padahal
dalam ajaran ini, antara gereja-gereja di Timur (Yunani, Koptik, Syria,
Assyria Timur) sebenarnya sama. Perbedaannya justru dengan Gereja
Barat Latin dan Gereja-gereja Protestan, yang masih mempertahankan
sisipan filioque dalam Kredo Nicea / Konstantinopel.
47Mar Ignatius Ya’qub III, op. cit. h.12, dalam Bambang Norsena, op
cit, h. 34.
48Bambang Noorsena, Memahami Kesalahfahaman, Beberapa tema
teologis dalam Perjumpaan Kristen-Islam,op. cit, h. 32.
49Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, op. cit.,h.25.
50Said Aqiel Siradj, Laa Ilaha Ilalah Juga, dalam Bambang Noorsena,
Ibid., h.165.
51Bambang Noorsena, Ibid, h. 72-75.
52Arthur Jefferey, The Foreign Vocabulary of the Qur’an,(Lahore: Al
Biruni, 1979), h. 197-199. Kata-kata Arab dalam Al-Qur’an yang berasal
dari bahasa Suryani /Aram/Syriac menurutnya antara lain: Allah, sholat,
‘Isa, al-masih, ad-dajjal, subhanallah, yang ternyata pararel dengan bentuk
suryani; Alaha, tselota,’Isha, meshiha, daggala, tehila, subh alaha. Arthur
Jeffery banyak merujuk penelitiannya ini dari Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an,
kaya Jalal ad-Din Asy-Syuyuthi. Lihat Al-Itqan, (Dar al Fikr: Kairo, tt),
juz I, bagian 38, dengan judul fima waqo’a fihi bighoiri lugotil ‘arabi.
22 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
53Mar Ignatius Efraim al-Awwal Bar Shauma, Patriarkh Antiokia dan
Pemmimpin Tertinggi Gereja Ortodoks Syria (1887-1957), menyusun buku
mengenai sholat tujuh waktu yang dilakukan oleh para pengikut gereja
ini dalam dua bahasa Suryani dan Arab dengan judul; At-Tuhfat ar-Ruhiyat
fi ash-Sholat al Fardhiyah.
54Didache atau Didakhe (Yunani Koine Äéäá÷t, Didachç), atau Ajaran-
Ajaran Rasul adalah nama yang umum diberikan kepada sebuah risalah
Kristen awal (yang diduga berasal dari suatu masa pada tiga abad pertama
sejarah Gereja), yang memuat pengajaran untuk komunitas-komunitas
Kristen. Teksnya sendiri kemungkinn merupakan katekismus tertulis
pertama, dengan tiga bagian utama yang membahas pengajaran Kristen,
ritual-ritual seperti baptisan dan ekaristi, serta organisasi gereja. Didache
dianggap oleh sebagian Bapak Gereja sebagai bagian dari Perjanjian Baru
oleh sebagian lainnya ditolak karena isinya diragukan, sehingga akhirnya
tidak diterima ke dalam kanon, kecuali Gereja Ortodoks Ethiopia yang
menerimanya dalam “kanon yang lebih luas”. Gereja Katolik Roma
menerimanya sebagai bagian dari tulisan para Bapak Rasuli. Penemuan
naskah ini pada akhir abad 19 menimbulkan gema yang hebat di kalangan
ilmiah gereja, sebab sarjana-sarjana patristik telah mengetahui
keberadaan apa yang disebut “Ajaran Rasul-rasul”, namun mereka tidak
pernah menemukan satu pun petunjuk tentangnya sampai penemuan
tersebut. Lihat, Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa
Indonesia, Didache, http://id.wikipedia.org/wiki/Didache, diakses tgl. 3
Desember 2007.
55 Bambang Noorsena,op. cit. , h.10-12.
56Mengetahui Ortodoks Syria, http://gereja.phpbb24.com/
viewtopic.php?t=295, diakses tgl. 27 Nopember 2007. lihat juga, Syriac
Orthodox Resources, Worship in the Syriac Orthodox Church, loc. cit.
57St. Thomas Syriac Orthodox Church, loc. cit.
58Syriac Orthodox Resources,lo. cit.
59HMO, Mauluddin Anwar, dan A. Murtafie Haris, Ada Jilbab, Khitan,
dan Jenggot, http://Groups.google.co.id/group/soc.culture.Indonesia/msg/
687942098847798, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
60Herry Mohammad, Sapto Waluyo, J. Eko Setyo Utomo, Upaya
Menemukan Kembali Akar, http://Groups.google.co.id/group/
soc.culture.Indonesia/msg/687942098847798, diakses tgl. 27 Nopember
2007.
61M.H., Titi A.S., dan Abdul Manan, Gereja dengan Haji dan Sholat,
http://jurnalis.wordpress.com/1998/10/03/gereja-dengan-haji-dan-sholat/
, diakses tgl. 27 Nopember 2007. Gambar postur-postur ibadah Yahudi
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 23
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
DAFTAR PUSTAKA
Al Kitab, Jakarta:Lembaga Al Kitab Indonesia,1993.
Alfred Guillaume, Islam, Toronto, Canada:Penguin Books,1956.
Arthur Jefferey, The Foreign Vocabulary of the Qur’an, Lahore: Al Biruni,
1979.
Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam,
Yogyakarta:Yayasan Andi, 2001.
Djam’annuri (ed), Agama-Agama di Dunia, Yogyakarta:IAIN Sunan
Kalijaga Press,1988.
J. H. Enklaar, Sedjarah Gereja Ringkas, Jakarta;Badan Penerbit Kristen,
1955.
Jalal ad-Din Asy-Syuyuthi. Al-Itqan, Dar al Fikr: Beirut. tt.
Nico Syukur Dister, Kristologi, sebuah sketsa, Yogyakarta:Kanisius, 1993.
Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, Jakarta: Widjaya, 1986.
Th. Van den End, Sejarah Gereja Asia, Yogyakarta:Pusat Penelitian dan
Inovasi Pendidikan “Duta Wacana”, 1988.
Internet:
FAQ, http://www.angelfire.com/journal2/iscs/faq.htm, diakses tgl. 27
Desember 2007.
Gereja Orthodox Indonesia, Sejarah Gereja Orthodox, http://
www.goina.org// uPos = L&uMenu = 10&uSys = 19&uCaption =
Sejarah%20Gereja, diakses tgl. 27 Desember 2007.
H.H. Moran Mor Ignatius Yacoub III, About the Syrian Orthodox Church,
http://www.syrianorthodoxchurch.net/Location/Global/SOC-index-
Global-en.htm, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
Herry Mohammad, Sapto Waluyo, J. Eko Setyo Utomo, Upaya
Menemukan Kembali Akar, http://Groups.google.co.id/group/
soc.culture.Indonesia/msg/687942098847798, diakses tgl. 27
Nopember 2007.
24 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
HMO, Mauluddin Anwar, dan A. Murtafie Haris, Ada Jilbab, Khitan,
dan Jenggot,http://Groups.google.co.id/group/soc.culture.Indonesia/
msg/687942098847798, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
Lambertus L. Hurek, Gereja Ortodoks Syiria di Indonesia, http. //
h u r e k . b l o g s p o t . c o m / 2 0 0 5 / 1 2 /
gereja.ortodoks.syria.di.Indonesia.html., diakses tgl. 27 Desember
2007.
M.H., Titi A.S., dan Abdul Manan, Gereja dengan Haji dan Sholat,
http://jurnalis.wordpress.com/1998/10/03/gereja-dengan-haji-dansholat/,
diakses tgl. 27 Nopember 2007.
Mengetahui Ortodoks Syria, http://gereja.phpbb24.com/
viewtopic.php?t=295, diakses tgl. 27 Nopember 2007.
Salim George Khalaf, “The Syriac”, Phoenician Canaanite Encyclopedia,
http://phoenicia.org/syriac.html, diakses tanggal 27 Desember 2007.
St. Thomas Syriac Orthodox Church, http://stsyriacchurch.homeip.net/
history.htm, diakses tgl. 27 Nopember 2007
Syriac Orthodox Resources, History of the Syriac Orthodox Church http:/
/sor.cua.edu/History/index.html, diakses tgl. 26 Nopember 2007.
The Syriac Orthodox Church,A Brief Overview, http://sor.cua.edu/Intro/
index.html, diakses tgl.22 Desember 2007.
Tore Kjeilen, “Syrian Orthdox Church”, Encyclopediae of The Orient,
http://i.cios.com/e.o/syr.orth.htm., diakses tgl. 27 Desember 2007.
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Denominasi
Kristen, http://id.wikipedia.org.wiki.Denominasi_Kristen, diakses
tgl . 7 Mei 2007.
Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, Didache,
http://id.wikipedia.org/wiki/Didache, diakses tgl. 3 Desember 2007.
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Filoque,
http://id.wikipedia.org/wiki/Filioque, diakses tgl. 2 Januari 2008.
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Gereja
Ortodoks Oriental, http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja-Ortodoks-
Oriental, diakses tgl. 29 April 2007
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 25
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Keduabelas
Rasul, “http://id.wikipedia.org/wiki/Keduabelas_Rasul, diakses tgl.
2 Januari 2008
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Miafitisme,
http://id.wikipedia.org/wiki/Miafisitisme, diakses tgl. 27 Desember
2007.
Wikipedia Indonesia, ensilopedia bebas berbahasa Indonesia, Dewan
Gereja-gerejaSe-Dunia,http://id.wikipedia.org/wiki/
Dewan_Gereja-gereja_se-Dunia, diakses 27 Mei 2006.
Wikipedia, the free encyclopedia, Syriac Orthodox Church, http://
en.wikipedia.org/wiki/Syriac_Orthodox_Church, diakses tgl. 29
Nopember 2007.
26 Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin
Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 27
Gereja Ortodoks Syria ... Oleh Zaenul Arifin

0 komentar:

Posting Komentar