|
TANAMAN PANGAN
Tanam Padi Hibrida
itu Tidaklah Sulit
Bertanam padi hibrida maupun konvensional sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, namun demikian seringkali ditemui adanya kesulitan tekhnis dalam menanam padi hibrida. Bila kita melakukan budidaya padi hibrida secara tepat dan benar sesuai anjuran dan didukung kondisi alam yang kondusif maka tujuan kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal pasti tercapai. Budidaya padi hibrida secara intensif dapat dilakukan semua pihak karena caranya sangat mudah.

Persiapan tempat persemaian
Langkah awal menanam padi hibrida adalah memilih tempat persemaian. Tempat persemaian haruslah memenuhi kriteria antara lain mudah pengairan dan pembuangannya, bebas hama penyakit serta jauh dari jalan raya. Gunakanlah bahan organik sebanyak 1 kg/m2 disebar sebelum penyiapan lahan persemaian untuk menambah kesuburan dan memudahkan pertumbuhan benih. Kemudian tempat persemaian tersebut kita beri pupuk majemuk NPK misalnya “Grand S15” sebanyak 5 – 6 gram per meter persegi pada areal persemaian yang dicampur dengan tanah. Penggenangan lahan persemaian diberikan dua kali dengan interval 7 hari untuk memecahkan perkecambahan gabah atau benih gulma.

Perlakuan perkecambahan/penyemaian
Agar diperoleh hasil maksimal dari benih padi hibrida yang kita tanam, maka sebaiknya kita membersihkan terlebih dahulu benih tersebut dari biji hampa dengan metode pengapungan kemudian direndam. Pengapungan bertujuan untuk menyeleksi benih yang akan digunakan, dimana kita harus mengambil benih yang tenggelam karena menunjukkan benih yang bernas, sedangkan benih yang mengapung yang menunjukkan benih tersebut hampa. Benih direndam selama 24 jam dengan waktu inkubasi (pemeraman) adalah 36 – 48 jam. Setelah pemeraman dan benih telah berkecambah , dilakukan penyebaran secara merata pada bedengan persemaian dengan kerapatan sebar 50 gr/m² (kebutuhan benih kurang lebih 20 kg/ha). Setelah itu, persemaian digenangi dengan air pada saat 2 – 3 hari setelah tabur atau sewaktu tanah terlihat mulai kering. Kita harus tetap menjaga air di persemaian agar tetap menggenang sejak umur 7 hari setelah sebar. Tinggi air tergantung pada tinggi bibit, namun usahakan agar bibit jangan sampai terendam. Agar bibit tumbuh dan berkembang dengan baik maka sebaiknya kita harus menutupi benih dengan tanah tipis atau penutup persemaian sejak dini yang baik. Selain itu upayakan pengendalian hama di persemaian dengan menyemprot insektisida imidakloprid “Winder 25WP atau 100EC” 7 hari sebelum pindah tanam.

Sebagai tambahan, untuk persemaian dengan ukuran kecil atau benih dengan kerapatan tinggi maka pertumbuhan bibit kurang baik. Sehingga dalam hal ini penyebaran benih harus diupayakan secara merata. Perlu diketahui pula bahwa benih padi hibrida Intani sudah diberikan seedtreatment (Wingran 0.5G untuk mencegah serangan lalat bibit dll) sehingga tidak perlu ada perlakuan benih (seed treatment) tambahan. Selain dengan menggunakan cara semai konvensional, kita juga dapat menggunakan metode semai kering yaitu benih yang akan disemai tanpa direndam atau diperam terlebih dulu langsung disemai pada bedengan-bedengan pesemaian yang sudah disiapkan. Ukuran lebar bedengan yang digunakan adalah sekitar 100 cm dengan tinggi sekitar 10 cm. Seperti halnya persemaian konvensional, bedengan persemaian ini pun harus diberi pupuk majemuk NPK “Grand S15” 5 – 6 gram per meter persegi. Setelah benih ditabur, benih ditutupi dengan tanah halus untuk kemudian dilakukan penggenangan bedengan secara teratur hingga permukaan air mencapai sekitar 2 cm diatas bedengan.

Pembajakan sawah
Penebaran Benih Padi Hibrida
Persemaian
Transplanting (Pindah Tanam)

Persiapan Lahan
Pengolahan tanah :
Pada tanah yang akan dijadikan lahan padi hibrida kita sebarkan terlebih dahulu kompos berupa kotoran ternak (dosis : 10 ton/ha). Setelah itu barulah kita lakukan pembajakan dan garu. Setelah proses pengolahan tanah selesai, maka sawah digenangi sekitar 1– 2 minggu. Pembajakan (gemburkan) dan penggaruan (ratakan lahan) dilakukan kembali pada saat 1 hari menjelang penanaman. Untuk pupuk dasar, dapat digunakan pupuk majemuk NPK misalnya “Grand S15”, dengan dosis 100 – 200 kg/ha. Selain itu, untuk menghindari tumbuhnya gulma , dianjurkan menggunakan herbisida Amandy, sedangkan herbisida Billy atau Queen dapat dicampurkan dengan pupuk majemuk NPK “Grand S15” dan Insektisida Wingran 0.5 G saat pemupukan dasar.

Pengendalian hama, penyakit dan gulma sebelum tanam.
Untuk mencegah hama dan penyakit, dapat dilakukan dengan memusnahkan rumput, batang padi dan sisa tanaman yang terinfeksi. Selain hanya rumput, batang padi serta sisa tanaman saja, binatang lain yang berpotensi sebagai biang hama penyakit seperti belalang, ulat, keong mas, serta tikus harus ikut dikendalikan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk pengendalian gulma dapat dilakukan dengan membersihkan gulma, semak-semak, jerami dari areal penanaman atau menyemprotnya terlebih dulu dengan herbisida pratumbuh “Amandy 865 AS”. Sedangkan untuk keong emas, lebih baik dilakukan dengan pengendalian secara mekanis dan biologis yaitu dengan cara melepaskan itik di lahan, mengambil keong, memperbaiki tanggul dan pintu air; memasang kawat kasa pada pintu air; membangun saluran dekat tanggul sebagai alternatif drainase dan perangkap keong emas. Sedangkan untuk mengendalikan tikus, kita dapat melakukan tindakan preventif dengan melakukan perburuan (gropyokan), membongkar setiap lubang tikus secara serentak. Pengendalian tersebut sebaiknya dilakukan sebelum musim tanam.

Penanaman dan Perawatan Fase Vegetatif
Pindah tanam, tanam ulang dan pengendalian gulma
Bibit yang sudah berumur umur 20 – 25 hari setelah semai dipindah tanam atau ditanam pada lahan yang sudah diatur jarak tanamnya dengan 1-2 tanaman per lubang. Usahakan agar saat penanaman air di lahan jangan sampai kering. Jarak tanam yang ideal untuk tanaman padi hibrida adalah 20 cm x 20 cm sampai 25 cm x 25 cm. Lakukanlah penyulaman tanaman pada bibit mati dan kering pada umur 5 – 7 hari setelah tanam (jika diperlukan). Untuk mencegah biji gulma berkecambah, gunakan herbisida Billy 20WP dan Queen pada umur 7 hari setelah tanam.

Pada saat penanaman, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan diantaranaya : Bila kita menggunakan jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan tanaman saling menaungi, jumlah anakan sedikit, pertumbuhan memanjang dan ramping sehingga tanaman mudah roboh. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi pada produksi padi. Untuk itu usahakan agar jarak tanam disesuaikan anjuran.

Penanaman yang terlalu dalam mengakibatkan tanaman lambat tumbuh (nglilir) sehingga terjadi penundaan dan menghambat pembentukan anakan.

Akar-akar baru, akan terbentuk pada umur 2 – 4 hari setelah pindah tanam, pertumbuhan anakan pada umur 5-10 hari setelah tanam.

Pemotongan daun yang panjang dan terkulai pada saat pindah tanam dapat dilakukan untuk mencegah daun tersebut kontak dengan tanah sehingga dapat mencegah terjadinya terinfeksi oleh bakteri.

Pengelolaan air setelah tanam
Pengelolaan air pada budidaya padi hibrida secara intensif dilakukan dengan pola “Irigasi Berselang”, yaitu: sewaktu tanam, tanah harus dalam kondisi macak-macak. Kemudian secara berangsur-angsur lahan diairi sedalam 2-5 cm, hingga tanaman berumur 10 hari setelah tanam (HST). Sejak umur 11 hari, pengairan dihentikan sehingga air dalam petakan sawah habis sendirinya dan permukaan lumpur sawah menjadi retak-retak (pengeringan). Setelah lahan kering selama 2 hari, sawah dapat diairi kembali setinggi 5 cm selama 5 hari (penggenangan). Ulangilah kegiatan pengeringan dan penggenangan tersebut hingga tanaman masuk fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm. Penggenangan air di lahan sangat penting terutama pada awal 10 hari setelah tanam untuk menghambat perkecambahan biji gulma.

Kekurangan air saat fase bunting sampai fase berbunga dapat meningkatkan gabah hampa atau sebagian gabah berisi. Terakhir, sejak 10 hari sebelum panen hingga saat panen, lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.

Pengendalian hama, penyakit dan gulma
Hama, penyakit maupun gulma yang menyerang padi hibrida tidak berbeda dengan padi konvensional. Sehingga pengendaliannya pun tidak berbeda jauh dengan saat kita menanam padi biasa. Untuk hama misalnya, selama awal fase pertumbuhan, kita dapat menggunakan insektisida “Wingran 0.5G” yang berbahan aktif imidakloprid untuk mencegah serangan hama wereng (baik itu wereng coklat atau wereng hijau), sundep, penggerek batang, ganjur, lalat daun, hama putih, hama putih palsu dan lain sebaiknya. Selain menggunakan insektida tersebut kita juga dianjurkan menggunakan insektisida Raydock 28EC untuk mengendalikan hama tersebut. Sedangkan untuk penyakit dapat dicegah antara lain dengan melakukan pengeringan berkala (mencegah kondisi lingkungan tidak terlalu lembab) dan pemupukan berimbang. Sedangkan cara pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengunakan fungisida sistemik berbahan aktif triadimefon “Promefon 250EC”. Untuk gulma yang menyerang , kita sebaiknya tidak menggunakan herbisida yang non selektif karena dapat menyebabkan kematian tidak hanya pada gulma namun juga pada tanaman padi. Oleh sebab itu, untuk gulma yang mengganggu saat masa vegetatif harus dilakukan penyiangan secara manual atau mekanis, yaitu dengan dicabuti atau menggunakan landak (sorok). Penyiangan sebaiknya dilakukan sebelum pemberian pupuk susulan. Penyiangan I dilakukan saat tanaman berumur sekitar 15 hari; penyiangan II pada saat tanaman berumur sekitar 25 hari, penyiangan berikutnya disesuaikan dengan populasi gulma.

Bila kita ingin menggunakan herbisida maka gunakanlah herbisida sistemik yang selektif seperti Amandy, Billy 80WP atau Queen 20WP dengan konsentrasi sesuai anjuran.

Pengelolaan hara/nutrisi pada fase pertumbuhan.
Untuk mempertahankan ketersediaan hara didalam tanah cukup untuk pertumbuhan tanaman yang optimal, maka perlu dilakukan pengamatan pertumbuhan tanaman dan warna daun. Waktu pemupukan yang tepat dapat ditentukan dengan menggunakan acuan “Bagan Warna Daun” Apabila warna daun bila dibandingkan dengan skala warna nilanya dibawah 4, maka perlu segera dilakukan pemupukan. Dosis, jenis dan waktu pemupukan susulan :
I : 100–150 kg/ha Urea umur 15 hst
II: 100–150 kg/ha Urea umur 25 hst
III: 100–150 kg/ha Urea + 100 kg/ha KCL umur 35 hst
Usahakan agar dalam memberikan pupuk susulan tidak dilakukan ketika daun masih basah, karena pupuk akan menempel pada daun yang dapat menyebabkan daun terbakar dan pupuk akan larut serta hilang bersamaan dengan menguapnya embun. Lakukankanlah kegiatan pemupukan saat kodisi tanah macak-macak.
Jika tanaman padi menunjukkan gejala kekurangan Zn, perlu dilakukan perbaikan saluran air di lahan atau sebarkan 10 – 20 kg/ha Zn2SO4 (Zinc sulfate). Jika pemupukan N terlalu banyak akan mengakibatkan tanaman rentan terhadap serangan hama dan penyakit, tanaman lambat masak dan rawan rebah terutama pada musim penghujan.

Perawatan Tanaman Fase Generatif
Pengelolaan hama pada fase reproduksi
Selama fase ini (50 – 90 hari setelah semai), kemungkinan resiko terserang hama dan penyakit cukup berpotensi . Apabila serangannya masih dibawah ambang ekonomi, akibat serangannya biasanya tidak menyebabkan penurunan hasil yang nyata karena tanaman masih dapat mengkompensasi produksi dari tanaman yang tidak terserang.

Untuk mencegah serangan agar tidak sampai melebihi ambang ekonomi, maka perlu dilakukan pengamatan hama dan pengendalian dengan menggunakan pestisida yang sesuai dengan hama yang menyerangnya atau sesuai dengan petunjuk PPL setempat.
Serangan penggerek batang (stem borer) dapat dicegah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Wingran 0.5G pada saat pemupukan dasar dan tanaman dalam fase vegetatif. Pengendalian hama wereng coklat dan wereng hijau dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif imidakloprid “Winder 25WP atau 100EC” pada pangkal tanaman.

Untuk meningkatkan efiktifitas pestisida yang kita gunakan maka kita harus menggunakan perekat “Besmor 200AS”, terutama pada musim penghujan.

Pemupukan
Penyiangan Gulma

Pengendalian penyakit pada fase reproduktif
Pada fase ini, penyakit utama di padi hibrida Intani adalah Hawar Daun Bakteri (Bacterial Leaf Blight) terutama pada umur 50 – 85 hari setelah tanam. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan pengeringan secara berkala, pemupukan berimbang dan penggunaan pupuk K. Meskipun tidak menangulangi 100% namun setidaknya dapat mengurangi keparahan serangan penyakit ini. Apabila gejala serangan nampak sudah mendekati ambang ekonomi maka dapat dilakukan penyemprotan menggunakan fungisida Promefon 250EC pada umur 40 –65 hari setelah tanam.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Pemanenan padi hibrida

Panen dan Pasca Panen
Pemanenan padi hibrida dilakukan ketika 95 % dari gabah setiap malai telah menguning (masak). Gabah harus sudah keras dan berwarna kuning, pada waktu itu gabah dekat pangkal malai belum masak. Jika terlambat panen dapat menyebabkan gabah tersebut mudah rontok.

Panen dilakukan dengan menggunakan sabit bergerigi, kemudian dirontokkan dengan mesin perontok pada hari yang sama saat penyabitan, agar gabah tidak rontok di lahan dan menekan kehilangan hasil. Sebelum disimpan gabah dibersihkan dan dikeringkan sampai kadar air mencapai 14 % .

(Rakimin, I Gde Decky dan Putu Darsana, R&D Padi Hibrida PT. BISI Kediri)


0 komentar:

Posting Komentar